Kepatuhan Prosedural dalam Penegakan Hukum PETI dan Dampaknya terhadap Pemulihan Ekosistem Hutan Tropis di Pohuwato, Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.62504/jimr1497Keywords:
Pertambangan Emas Tanpa Izin; Penegakan hukum; Pemulihan ekosistemAbstract
Penelitian ini menganalisis keterkaitan antara kepatuhan prosedural penegakan hukum terhadap penambangan emas tanpa izin (PETI) di Kabupaten Pohuwato, Indonesia, dengan pemulihan ekosistem. Melalui studi kasus terstruktur, dokumentasi hukum 14 bulan, observasi lapangan, dan analisis citra satelit dievaluasi terkait kepatuhan terhadap KUHAP pada tiga tahap penegakan hukum (penyidikan, penuntutan, persidangan) serta indikator lingkungan (tutupan vegetasi, konsentrasi merkuri, keanekaragaman hayati). Temuan utama menunjukkan bahwa kasus yang mematuhi ketat timeline KUHAP mencapai pemulihan ekosistem 40% lebih cepat dibanding kasus tertunda. Pohuwato mencatat tingkat konversi menjadi vonis bersalah 75% (di atas rata-rata nasional 60%), dengan korelasi positif kuat (r=0,87; p<0,01) antara kualitas bukti lingkungan forensik dan keberhasilan penuntutan. Bukti konsentrasi merkuri terbukti sangat efektif, menghasilkan vonis bersalah pada 90% kasus. Meski aktivitas PETI menurun 85% dalam radius 5 km pasca-penindakan, peningkatan tutupan vegetasi hanya 15% dalam 6 bulan, mengindikasikan kecepatan pemulihan ekologis yang lebih lambat. Signifikan bahwa 70% tersangka menyatakan kesiapan berpartisipasi dalam program restorasi, berkorelasi signifikan dengan integrasi bukti ilmiah (r=0,79; p<0,05). Hasil ini membuktikan bahwa efisiensi prosedur hukum tidak hanya menghentikan kerusakan lebih lanjut, tetapi juga menjadi fondasi kritis bagi percepatan pemulihan ekosistem. Studi ini menjembatani celah penelitian dengan menghubungkan secara empiris kepatuhan prosedur hukum dengan hasil lingkungan, sekaligus menantang pendekatan ekonomi pertambangan yang berpusat pada Eropa. Implikasi praktis mendesak pelatihan khusus bukti lingkungan bagi jaksa dan pedoman operasional integrasi data ilmiah ke dalam proses hukum. Temuan ini menyediakan landasan aksi bagi penyelarasan kerangka hukum Indonesia dengan realitas konservasi, sekaligus menawarkan model perlindungan hutan tropis bagi negara berkembang kaya sumber daya.
Downloads
References
Adu-Baffour, F., Daum, T., Obeng, E. A., Bosch, C., & Birner, R. (2025). Who cleans up the mess? Exploring community-based solutions for rehabilitating Ghana’s artisanal and small-scale mining lands. Environmental Development, 55. https://doi.org/10.1016/j.envdev.2025.101239
Alkatiri, F. A., & Kiwang, A. S. (2023). The Roles of Religious Organizations in the Decline of the Anti-mining Movement in Banyuwangi, East Java. Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde, 179(1), 5–37. https://doi.org/10.1163/22134379-bja10048
Anokye, K., & Darko, L. O. (2025). Ecological responses to anthropogenic stress: Restoring degraded landscapes from galamsey activities in Ghana – A review. Cleaner Waste Systems, 12. https://doi.org/10.1016/j.clwas.2025.100423
Arthur-Holmes, F., & Ofosu, G. (2024). Rethinking state-led formalisation of artisanal and small-scale mining (ASM): Towards mining licence categorisation, women empowerment and environmental sustainability. Resources Policy, 93. https://doi.org/10.1016/j.resourpol.2024.105058
Arthur-Holmes, F., Tomude, E. S., & Damtar, D. (2026). Is a licence for small-scale mining a means, an end, or both? Politics of ASM formalisation and environmentally-responsible mining in Ghana. Environmental Science and Policy, 175. https://doi.org/10.1016/j.envsci.2025.104290
Arthur-Holmes, F., & Yeboah, T. (2025). Reconceptualizing the youth and waithood notions: African youth agency and rural livelihoods in artisanal and small-scale mining. Journal of Rural Studies, 113. https://doi.org/10.1016/j.jrurstud.2024.103513
Brugger, F., Zongo, T., Proksik, J. J., & Bugmann, A. (2024). Unravelling the nexus of illicit gold trade, protection rackets, and political settlement dynamics: Evidence from Burkina Faso. World Development, 181. https://doi.org/10.1016/j.worlddev.2024.106682
Brunnschweiler, C. N., Karapetyan, D., & Lujala, P. (2024). Opportunities and risks of small-scale and artisanal gold mining for local communities: Survey evidence from Ghana. Extractive Industries and Society, 17. https://doi.org/10.1016/j.exis.2024.101403
Devi, B., Mayes, R., & Grant-Smith, D. (2025). ‘Who intersects with whom’: Competing rationalities in governing the contested interface between industrial mining and ASGM in Gorontalo Province, Indonesia. Extractive Industries and Society, 23. https://doi.org/10.1016/j.exis.2025.101691
Hakim, N. M. (2025). Laporan harian kegiatan
Hayes, W. M., Voigt, M., Rosa, I., Cort, K. A., Kotlinski, N., Kalamandeen, M., Davies, Z. G., & Bicknell, J. E. (2023). Predicting the loss of forests, carbon stocks and biodiversity driven by a neotropical ‘gold rush.’ Biological Conservation, 286. https://doi.org/10.1016/j.biocon.2023.110312
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2024). Statistik penegakan hukum lingkungan Tahun 2024.
Kejaksaan Negeri Pohuwato. (2024–2025). Dokumentasi kasus (dirujuk dalam naskah penelitian).
Kvangraven, I. H. (2025). Cracks in the “gold standard”: The Eurocentrism of mining in development economics. World Development, 192. https://doi.org/10.1016/j.worlddev.2025.107006
Nti, E. K., Kranjac-Berisavljevic, G., & Doke, D. A. (2024). Assessing the impact of artisanal gold mining on the environmental sustainability of groundwater resource for water security in southwestern Ghana. Environmental Challenges, 14. https://doi.org/10.1016/j.envc.2023.100804
Nti, E. K., Kranjac-Berisavljevic, G., Doke, D. A., Wongnaa, C. A., Attafuah, E. E., & Gyan, M. A. (2023). The impact of artisanal gold mining on the sustainability of Ghana’s river basins: The case of the Pra basin. Environmental and Sustainability Indicators, 19. https://doi.org/10.1016/j.indic.2023.100264
Obodai, J., Mohan, G., & Bhagwat, S. (2023). Beyond legislation: Unpacking land access capability in small-scale mining and its intersections with the agriculture sector in sub-Saharan Africa. Extractive Industries and Society, 16. https://doi.org/10.1016/j.exis.2023.101357
Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2018. (2018). https://peraturan.bpk.go.id/Details/133179/permenkumham-no-39-tahun-2018
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2024. https://peraturan.bpk.go.id/Details/286980/pp-no-25-tahun-2024
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 96 Tahun 2021. https://peraturan.bpk.go.id/Download/170774/PP%20Nomor%2096%20Tahun%202021.pdf
Sefa-Nyarko, C. (2024). The crisis of leadership in minerals governance in Ghana: Could process leadership fill the void? Extractive Industries and Society, 18. https://doi.org/10.1016/j.exis.2024.101470
Stacey, P. (2025). Institutional coalescence and illegal small scale gold mining in Ghana. World Development, 185. https://doi.org/10.1016/j.worlddev.2024.106808
Stærfeldt, L. K., & Stacey, P. A. (2025). Environmental governance and political contestation in contexts of illegal small-scale gold mining in Ghana. Geoforum, 160. https://doi.org/10.1016/j.geoforum.2025.104221
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020. https://peraturan.bpk.go.id/Details/138909/uu-no-3-tahun-2020
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2023. https://peraturan.bpk.go.id/Details/246523/uu-no-6-tahun-2023
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Abdul Samad Hiola, Daud Sandalayuk, Alexander Ruruh, Nabila Margareta Hakim, Abdul Alim (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.










